Memahami Riba

Dan Aku halalkan bagimu jual beli, dan Aku haramkan bagimu riba…” (QS. Al Baqarah: 275)

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah…” (QS. Ar Rum: 39)
Allah melaknat pemakan riba, pemberinya, penulisnya dan kedua saksinya.” (HR. Muslim dari Jabir)

Riba dapat timbul dalam pinjaman (riba dayn) dan dapat pula timbul dalam perdagangan (riba bai’). Riba bai’ terdiri dari dua jenis, yaitu riba karena pertukaran barang sejenis, tetapi jumlahnya tidak seimbang (riba fadl), dan riba karena pertukaran barang sejenis dan jumlahnya dilebihkan karena melibatkan jangka waktu (riba nasiah). Riba dayn berarti ‘tambahan’, yaitu pembayaran  “premi” atas setiap jenis pinjaman dalam transaksi hutang-piutang maupun perdagangan yang harus dibayarkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman di samping pengembalian pokok, yang ditetapkan sebelumnya.

Secara teknis,  riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Dikatakan bathil karena pemilik dana mewajibkan peminjam untuk membayar lebih dari yang dipinjam tanpa memperhatikan apakah peminjam mendapat keuntungan atau mengalami kerugian.

Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasallam pernah menunjukkan bagaimana urgensi pelarangan riba dalam sebuah bangunan ekonomi dengan menerangkan bahwa pemberian hadiah yang tak lazim atau sekedar memberikan tumpangan pada kendaraan dikarenakan seseorang merasa ringan akibat sebuah pinjaman adalah tergolong riba.

Riba dilarang dalam Islam secara bertahap, sejalan dengan kesiapan masyarakat pada masa itu, seperti juga tentang pelarangan yang lain, seperti judi dan minuman keras. Tahap pertama disebutkan bahwa  riba akan menjauhkan kekayaan dari keberkahan Allah subahanahu wa ta’ala, sedangkan sedekah akan meningkatkan keberkahan berlipat ganda (QS. Ar Rum: 39).

Tahap kedua, pada awal periode Madinah, praktek  riba dikutuk dengan keras (QS An-Nisaa’: 161), sejalan dengan larangan pada kitab-kitab terdahulu. Riba dipersamakan dengan mereka yang mengambil kekayaan orang lain secara tidak benar, dan mengancam kedua belah pihak dengan siksa Allah subhanahu wa ta’ala yang amat pedih.

Tahap  ketiga, sekitar tahun kedua atau ketiga Hijrah, Allah subhanahu wa ta’ala menyerukan agar kaum muslimin menjauhi  riba jika mereka menghendaki kesejahteraan yang sebenarnya sesuai Islam (QS Ali Imran: 130-132).

Tahap terakhir, menjelang selesainya misi Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasallam, Allah subhanahu wa ta’alamengutuk keras mereka yang mengambil riba, menegaskan perbedaan yang jelas antara perniagaan dan  riba, dan menuntut kaum muslimin agar menghapuskan seluruh hutang piutang
yang mengandung  riba, menyerukan mereka agar mengambil pokoknya saja, dan mengikhlaskan kepada peminjam yang mengalami kesulitan (QS 2: 275-279).

Dalam beberapa Hadits, Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasaalam. mengutuk semua yang terlibat dalam riba, termasuk yang mengambil, memberi, dan mencatatnya. Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasaalam menyamakan dosa  riba sama dengan dosa zina 36 kali lipat atau setara dengan orang yang menzinahi ibunya sendiri.

Riba tidak hanya dilarang dalam ajaran Islam, tetapi juga dilarang dalam ajaran Yahudi (Eksodus 22: 25, Deuteronomy 23: 19, Levicitus 35: 7, Lukas 6: 35), ajaran Kristen (Lukas 6: 34-35, pandangan pendeta awal/abad I-XII, pandangan sarjana Kristen/abad XII-XV, pandangan reformis Kristen/abad XVI-1836) , maupun ajaran Yunani seperti yang disampaikan oleh Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM).

Maraji’
Ascarya. 2006. Akad dan Produk Bank Syariah: Konsep Dan Praktek Di Beberapa Negara. Jakarta: Bank Indonesia.
Antonio, Muhammad Syafi’i. 2001. Bank Syariah Dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s